BPCB Sumbar Kagumi Akulturasi Budaya di Siak

BPCB Sumbar Kagumi Akulturasi Budaya di Siak

BPCB Sumbar Kagumi Akulturasi Budaya di Siak

No Comments on BPCB Sumbar Kagumi Akulturasi Budaya di Siak
Rombongan tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Sumatera Barat mengagumi Kabupaten Siak yang kaya akan budaya dan sangat menghargai akulturasi.Demikian disampaikan oleh Kepala Kelompok Kerja (Pokja) Pemugaran BPCB Sumbar, Nedik Tri Nurcahyo. Menurutnya, Siak memiliki banyak hal yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Salahsatunya yang sangat menonjol adalah istana dan adat istiadat Melayu yang kental dan adanya akulturasi budaya yang bagus antara China dan pribumi.”Apa yang diinginkan oleh Pemkab Siak sangat bisa terwujud. Baik itu sebagai cagar budaya nasional, maupun Kota Pusaka. Budaya Melayunya kental namun tetap menghargai adanya akulturasi,” ungkapnya.

Sambungnya, keberagaman itulah yang menjadi sebuah kekuatan besar di Siak. Akulturasi China dan Melayu menghasilkan suatu seni luar biasa. Bahkan ia sempat memuji kewibawaan Raja Siak yang tidak menutup mata dengan bangsa lain tersebut.

“Secara keilmuan dan secara pribadi saya kagum dengan Siak. Raja Siak sepertinya sangat welcome terhadap bangsa lain. Di daerah lain banyak yang alergi rumah ibadah berdekatan. Di Siak justru tidak ada sama sekali, imbunya.

Lanjut Nedik, untuk menjadi cagar budaya nasional ia menyarankan supaya istana menjadi semacam komplek. Artinya, istana satu komplek dengan Masjid Syahabuddin, Balai Kerapatan, makam dan pasar lama. Ini menjadi satu kesatuan sejarah kolektif, sarannya kepada Bupati Siak, Syamsuar, Kamis (11/2/2016) lalu.

Sedangkan, untuk menjadi Kota Pusaka, ia menyebutkan Siak punya banyak hal yang bisa diandalkan mulai dari tata letak perkantoran, jembatan yang super megah, kekunoan masa lalu dan hutan tua di tengah kota,  menjadi sesuatu yang sangat eksotis bagi wisatawan kelak.

Penempatan bangunan-bangunan Belanda di seberang sungai yang berhadapan dengan Istana Siak juga, kata Nedik, sangat menarik. Dilihat dari tata ruang, Sultan kayaknya sudah mengkondisikan bahwa diantara keduanya sama-sama saling mengawasi tapi tak ada konfrontasi. Ini sama kayak di Yogyakarta. Di seberang keraton ada benteng Belanda. Yang kayak gini ini kan unik, katanya.

Nedik mengingatkan, bahwa pusaka itu tak harus spesifik, bisa kekunoan yang sangat penting bagi masyarakat, bisa pusaka alam, budaya atau saujana budaya (perpaduan antara alam dan budaya).

“Yang paling penting itu semua pemangku kepentingan harus ngumpul dulu untuk menentukan apa yang bakal dimasukkan dalam Kota Pusaka itu. Pusaka apa saja yang bakal ditonjolkan dan menjadi beda dengan daerah lain. Hrus disepakati juga bahwa kelak pusaka itu tak akan hilang. Sebab kalau hilang, tidak pusaka lagi namanya, ujar Nedik.

Sejak sekarang menjadi cagar budaya dan Kota Pusaka, Siak semakin kemilau dimasa depan. Semua itu akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Daya tarik lebih yang dimiliki Siak, sudah mendatangkan devisa dari kunjungan wisatawan yang semakin melimpah.

Ini pulalah bedanya Siak dengan daerah lain. Sebelum benar-benar menjadi kota besar, Siak sudah menata daerahnya. Banyak daerah di dunia yang setelah maju dulu baru terseok-seok mencari jati dirinya asal usulnya, imbuh Nedik.

Hadir dalam pertemuan tersebut, diantaranya Wakil Bupati Siak Alfedri, Sekda Siak Tengku Said Hamzah, Kadis Cipta Karya Irving Kahar, Ketua Bappeda Yan Prana, Kadis Pariwisata Hendrisan, serta sejumlah pejabat lain ikut duduk di ruangan itu.

Sumber goriau.com, Senin 15 Februari 2016

Similar Posts:

    None Found

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to Top