Kemenkes: Ada Risiko Kematian Jika Terus Terpapar Asap

Kemenkes: Ada Risiko Kematian Jika Terus Terpapar Asap

No Comments on Kemenkes: Ada Risiko Kematian Jika Terus Terpapar Asap

Bayi

Kementerian Kesehatan mengatakan terdapat risiko kematian bagi warga yang terus-menerus menghirup kabut asap, terutama mereka dengan kondisi kesehatan bermasalah. Oleh sebab itu Kemenkes mengimbau warga di wilayah terdampak kabut asap untuk betul-betul menjaga kesehatan dengan mengenakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah.

“Semakin lama terpapar, peluang kematian semakin besar. Orang sakit parah bertambah banyak dengan komplikasi lebih dalam,” kata Achmad Yurianto, Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kementerian Kesehatan, kepada CNN Indonesia, Kamis (8/10).

Achmad menjelaskan tahapan-tahapan dampak kesehatan bagi warga yang terpapar kabut asap. Pertama, warga akan mengalami iritasi karena terpapar partikel asap. Iritasi itu bisa terjadi di mata berupa mata merah dan berair. Hal ini terutama bagi warga yang mengendarai motor di wilayah kabut asap tanpa mengenakan kacamata.

Selanjutnya asap yang masuk ke hidung akan menyebabkan reaksi iritasi dan alergi yang diwujudkan dengan peningkatan lendir. “Dampaknya, pilek dan bersin-bersin atau yang kita kenal influenza,” kata Achmad.

Setelah itu, asap akan masuk ke dalam tenggorokan dan menyebabkan iritasi alergi berupa rangsangan batuk serta pilek biasa. Apabila dibiarkan berlanjut, terutama bagi yang memiliki kondisi tubuh rentan dengan daya tahan tubuh lemah, mereka akan terinfeksi oleh bakteri.

“Inilah tahapan di mana seseorang terkena Saluran Infeksi Pernafasan Akut (ISPA),” kata Achmad.

Jika warga sudah terkena ISPA namun tidak dirawat dengan baik dan masih terus menerus menghirup asap, pada tahapan tertentu, infeksi bakteri akan merambat turun ke paru-paru sehingga menyebabkan radang paru atau pneumonia.

“Dalam kondisi ini, fungsi paru-paru menurun. Lalu, kalau fungsi paru-paru menurun terus gagal, maka akan mati,” kata Achmad.

Kondisi ini, katanya, berbeda antara satu orang dengan orang lainnya tergantung ketahanan tubuhnya. Oleh karena itu, mereka yang berada di dalam kelompok rentan seperti lanjut usia, anak-anak, bawah lima tahun dan ibu hamil, termasuk yang mesti mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah terkait dampak kabut asap ini.

“Jadi ini tergantung ketepatan dan kecepatan berobat. Kalau tiap hari sudah langsung berobat bisa cegah komplikasi. Kalau sudah sampai radang paru-paru, mau diapa-apakan pun susah,” kata Achmad.

Ditanya mengenai keengganan warga menggunakan masker, Achmad mengatakan paham alasan tersebut. Dalam beberapa kunjungannya ke beberapa wilayah terdampak asap, dia seringkali melihat warga keluar rumah tanpa mengenakan masker.

“Bahkan kadang masker dipakai buat menutup mulut saja atau malah ditaruh di dahi. Mereka banyak yang tidak familiar dan tidak mengerti betapa penting menggunakan masker tersebut,” katanya. “Meski tidak nyaman, masker sangat penting untuk dikenakan.”

Oleh karena itu Kemenkes terus melakukan sosialisasi kepada warga, terutama melalui dinas-dinas kesehatan setempat, puskesmas, atau rumah sakit. Kemenkes juga memberikan bantuan masker kepada delapan provinsi terdampak asap.

“Rumah sakit masih banyak yang kosong. Jadi kalau warga mulai batuk dan pilek, langsung berobat. Semua biaya penyakit akibat asap gratis dan ditanggung pemerintah,” kata dia.

Berdasarkan data yang diterima CNN Indonesia, Provinsi Kepulauan Riau mendapat bantuan obat antibiotik, masker biasa sebanyak 100 ribu, serta masker N95 sebanyak 1.700; Sumatra Selatan mendapat masker 125 ribu unit; Riau mendata masker 445 ribu buah, masker N95 sebanyak 1.500, botol oksigen 400 kaleng dan paket obat ISPA-tetes mata; Bangka Belitung mendapat masker 35 ribu, botol oksigen 5 kaleng, serta paket obat untuk ISPA, diare, tetes mata dan vitamin.

Sementara Jambi mendapat masker N95 sebanyak 95 ribu, botol oksigen 20 kaleng, serta paket obat; Kalimantan Tengah mendapat masker sejumlah 102.930, masker N95 1.500, botol oksigen 400 kaleng dan paket obat; Kalimantan Selatan mendapat masker sebanyak 50 ribu.

Penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Riau mencapai 57.536 orang, Jambi 69.734 jiwa, Sumatra Selatan 83.276 jiwa, Kalimantan Barat 43.477 orang, Kalimantan Selatan 29.104 jiwa, Kalimantan tengah 43.701 jiwa, dan Sumatra Barat 3.114 jiwa.

Sumber cnnindonesia.com, 08 Oktober 2015.

Similar Posts:

    None Found

« Previous Article Pemukiman Warga 88 Dibantu Air Bersih

Next Article » Selamat Kembali ke Tanah Air

linked in share button

Leave a comment

Back to Top