Pariwisata

Pariwisata

DANAU ZAMRUD

” Wisata Alam “
Sungai Mempura di seberang sungai berhadapan dengan Balai Kerapatan Tinggi Siak terdapat sebuah anak sungai yang di hulunya terdapat sebuah desa yang bernama Desa Sungai Mempura. Untuk mengunjungi desa ini dapat menggunakan perahu dayung atau bermotor yang selalu siap membawa kita ke hulu sungai menuju Desa Sungai Mempura.
Menghilir sungai yang meliuk lingkuk ini memberikan suatu rasa nyaman dengan panorama alam semula jadi, di kiri kanan sungai yang ditumbuhi aneka ragam pepohonan yang teduh dan sesekali kita dikejutkan dengan lompatan kera-kera yang bercengkrama berloncatan dari satu dahan kedahan yang lain.
Suara hewan hutan dan kicauan burung, serta suara serangga hutan, membuat suasana yang khusus kepada wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini.

Monumen Pompa Angguk

Minas terkenal dengan hasil buminya yaitu minyak bumi yang menjadi standard terbaik dunia yaitu minyak Minas. Minas merupakan daerah pengeboran minyak pertama untuk daerah Riau dan pompa minyak pertama itu sekarang tidak beroperasi lagi karena minyaknya telah kering.

Penetapan lokasi sumur minyak ini dilakukan pada bulan Maret 1941 dan pengeboran sumur dimulai pada tanggal 10 Desember 1944 dengan kedalaman sumur 800 M.

Merk pompa yang digunakan adalah Lufkin. Pompa tersebut saat ini dijadikan monumen sejarah perminyakan di Propinsi Riau, berdiri megah di kota Minas dan terus mengangguk setiap saat.

Danau Zamrud

Kawasan Wisata Bahari di Kabupaten Siak merupakan kawasan objek wisata yang sangat menarik di Kabupaten Siak, danau ini dapat dikembangkan sehingga para wisatawan manca negara dapat berkunjung dan menikmati indahnya alam yang sejuk dan nyaman.

Wisata Bahari di Kabupaten Siak ini yaitu Danau Pulau Besar terletak di Desa Zamrud, dengan luas sekitar 28.000 Ha. Danau Bawah dan Danau Pulau Besar terletak dekat lapangan minyak Zamrud, memiliki panorama indah yang mengagumkan dan menarik. Di sekitar danau masih ditemukan hutan yang masih asli.

Kondisi danau maupun hutan di sekitar danau berstatus Suaka Marga Satwa yang luasnya mencapai 2.500 Hektar, dimana masih terdapat berbagai aneka jenis satwa dan tumbuhan langka. Sumber daya hayati yang terdapat di danau ini seperti Pinang Merah, Ikan Arwana dan Ikan Balido yang termasuk dilindungi. Keanekaragaman jenis satwa liar di Suaka Marga Satwa Danau Pulau Besar dan Danau Bawah merupakan kekayaan tersendiri sebagai objek wisata tirta di Riau Daratan.

Danau Naga Sakti

Danau Naga terletak di Kecamatan Sungai Apit ini, menurut cerita masyarakat dahulunya setiap setahun sekali timbul makhluk mirip naga sehingga diberi nama Danau Naga. Danau ini memiliki panorama alam yang sangat indah dengan air yang tenang disertai hembusan angin sepoi-sepoi sehingga sangat cocok untuk wisata dan olahraga air, seperti: pemancingan, parasaling, dan jet sky.

” Wisata Budaya “

Upacara Adat

Upacara Adat yang terkenal adalah upacara adat perkawinan yang dimulai dari : Merisik, Meminang, Menghantar Tanda Antar Belanja, Berinai, Berandam, Berinai Lebai/Akad Nikah, Hari Langsung (bersanding), Mandi Taman dan Menyembah Mertua.

Tepak Sirih

Asal usul Tradisi Makan Sirih

Tradisi makan sirih merupakan warisan budaya masa silam, lebih dari 3000 tahun yang lampau atau di zaman Neolitik, hingga saat ini. Budaya makan sirih hidup di Asia Tenggara. Pendukung budaya ini terdiri dari berbagai golongan, meliputi masyarakat bawah, pembesar negara, serta kalangan istana. Tradisi makan sirih tidak diketahui secara pasti dari mana berasal. Dari cerita-cerita sastra, dikatakan tradisi ini berasal dari India. Tetapi jika ditelusuri berdasarkan bukti linguistik, kemungkinan besar tradisi makan sirih berasal dari Indonesia. Pelaut terkenal Marco Polo menulis dalam catatannya di abad ke-13, bahwa orang India suka mengunyah sekumpal tembakau. Sementara itu Penjelajah terdahulu seperti Ibni Batutah dan Vasco de Gama menyatakan bahwa masyarakat Timur memiliki kebiasaan memakan sirih.

Di masyarakat India, sirih pada mulanya bukan untuk dimakan, tetapi sebagai persembahan kepada para dewa sewaktu sembahyang di kuil-kuil. Beberapa helai daun sirih dihidangkan bersama dengan kelapa yang telah dibelah dua dan dua buah pisang emas.

Pada saat ini sirih sangat di kenal di kalangan masyarakat Melayu. Selain dimakan oleh rakyat kebanyakan, sirih juga dikenal sebagai simbol budaya dan menjadi yang tak terpisahkan dalam adat istiadat Melayu. Sirih dipakai dalam upacara menyambut tamu,upaca merisik dan meminang, upaca pernikahan tradisional, dan berbagai upacara adat yang lain. Dalam upacara pernikahan, sirih di rangkai dalam bentuk sirih junjung yang cantik, dan bersama dengan sirih penyeri dipakai sebagai barang hantaran kepada pengantin perempuan. Di dalam upacara resmi kebesaran istana, sirih junjung dipakai sebagai sebagai hiasan yang menyemarakan suasana. Sirih junjung juga dibawa sebagai kepala suatu arak-arakan adat.

Desa Mempura

Berawal dari muara Sungai Mempura terus mudik ke hulu mengikuti aliran sungai yang berair tenang, dikala pasang kita temui desa tradisional, yaitu Desa Mempura. Penduduknya yang ramah serta alamnya yang sejuk dengan air sungai yang merah dan hutan sekelilingnya yang masih asli, hidup aneka flora dan fauna yang saling bercengkerama sesamanya berayun buai di cabang dan ranting pepohonan. Ini semua dapat kita lihat setibanya sampai di desa tersebut.

Desa Mempura ini pernah menjadi pusat Kerajaan Siak dibawah kepemimpinan Sultan Abdul Djalil Muzaffar Syah yang memerintah tahun 1746-1765 (Sultan Siak ke-2), dan setelah mangkat beliau dimakamkan di Mempura diberi gelar Marhum Mempura. Disini pada musim tertentu kita dapat menikmati buah durian yang banyak terdapat disana sambil menikmati Musik Gambus mengiringi penari membawakan Tarian Zapin yang ditarikan oleh penduduk setempat dengan fasihnya.

Back to Top