Kehutanan

PERKEBUNAN

Perkebunan mempunyai kedudukan yang penting didalam pengembangan pertanian baik di tingkat nasional maupun regional, demikian juga dengan Kabupaten Siak yang mempunyai wilayah perkebunan yang luas. Dari data luas lahan dan produksi perkebunan memperlihatkan bahwa komoditas kelapa sawit memiliki nilai produksi dan luas lahan terbesar bila dibandingkan dengan komoditas lainnya dari lahan perkebunan, disusul dengan komoditas karet.

Tanaman perkebunan yang dikembangkan di Kabupaten Siak adalah kelapa, kelapa sawit, karet, kopi sagu dan aneka tanaman lainnya. Sentra produksi kelapa sawit terdapat di Minas, Tualang dan Dayun, Karet di Kerinci Kanan, Dayun dan Siak Sri Indrapura, sedangkan kelapa di Sungai Apit, Bunga Raya dan Tualang.

Peluang Investasi

Potensi pengembangan lahan untuk perkebunan sawit masih tersedia total 118.349 ha, dengan usulan pengembangan dari kecamatan-kecamatan di mulai dari tahun 2003. Selain perkebunan kelapa sawit yang menjadi peluang investasi di Kabupaten Siak yang perlu di tingkatkan adalah karet dan kopi.

Ada beberapa komoditi yang bias di kembangkan dan menunggu investor untuk menanamkan modalnya di Kabupaten Siak, komoditi tersebut antara lain :

  • Kelapa Sawit
  • Karet, Kelapa
  • Kopi
  • Pinang
  • Sagu.

Industri CPO

Industri kelapa sawit di Siak menghasilkan 315.862 ton CPO dan 60.975 ton minyak inti sawit per tahun. Berdasarkan data 2000, luas areal sawit di Siak mencapai 107.420 ha. Dalam waktu 2 tahun akan dihasilkan CPO lebih dari 500.000 ton per tahun, mengingat semakin bertambahnya areal pengembangan, dan meningkatkannya tanaman yang mulai menghasilkan tandan buah sawit. Pasar industri olahan CPO terbuka baik lokal dalam negeri maupun internasional. Pasar lokal diantara datang dari Batam, Jawa, Kalimantan dan Sumatera sendiri. Pasar internasional untuk memenuhi kebutuhan Singapura, Asia, Eropa dan Amerika.

Untuk meningkatkan nilai tambah diperlukan industri hilir CPO sehingga dapat dihasilkan minyak goreng, margarine, sabun dan lainnya. Kegiatan industri hilir CPO dapat dikembangkan secara integrated dalam kawasan industri Butun. Dari sekitar 500.000 ton CPO yang akan dihasilkan, masih sangat berpeluang ditawarkan kepada para investor untuk membangun industri hilirnya berupa 2-3 unit pabrik.

Pembangunan sub sektor perkebunan yang merupakan bagian dari pembangunan daerah harus mampu meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat secara berkeadilan dan berkelanjutan selaras dengan potensi sumber daya alam yang tersedia. Sehingga peran penting perkebunan sebagai penggerak perekonomian sebagai penggerak perekonomian daerah, mendukung pengembangan wilayah, penyerapan tenaga kerja, pendorong pengembangan industri hilir, penyumbang pendapatan daerah, penyedia devisa Negara serta peran pentingnya mendukung kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup akan semakin meningkat.

Dalam beberapa tahun terakhir ini pembangunan sub sektor perkebunan di Kabupaten Siak telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan terutama dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Namun bila di lihat dari aspek pemerataan dan sebaran lokasi masih kurang. Beberapa pola yang dilaksanakan dalam pengembangan komoditi perkebunan antara lain, Pola Perusahaan Swasta, Pola Kemitraan, Pola Inti Plasma dan Pola Swadaya. Beberapa komoditi penting perkebunan yang dikembangkan antara lain adalah Kelapa Sawit, Karet, Kelapa, Kopi, Pinang dan Sagu.

 KEHUTANAN

Hampir seluruh bagian di Kabupaten Siak ditutupi oleh hutan, yang terdiri dari hutan produksi, hutan konversi, hutan mangrove, hutan cagar alam, dan beberapa hasil hutan seperti kayu lapis, kayu gelondongan dan lain ? lain.

Industri besar terdapat di Kecamatan Siak dan Kecamatan Tualang. Semua industri besar dan sedang yang berkembang di Siak masih terbatas pada pengolahan hasil hutan berupa kayu lapis, moulding, dan pulp, serta pengolahan kelapa sawit menjadi CPO (crude palm oil).

Hutan di Siak luasnya 483 juta hektar yang dibagi menurut fungsinya. Hutan lindung 1,6 % dan hutan suaka alam 14,4 % menjadi hutan yang tak boleh diganggu gugat. Sementara itu, dari hutan produksi 37,9 %, hutan produksi terbatas 44,5 %, dan hutan lainnya 1,4 %, industri hasil hutan memperoleh bahan baku. Bahan baku itu kemudian dibuat menjadi kayu gergajian, kayu lapis, bahan baku serpih, pulp, blockboard, dowels, veneer, dan fancywood. Produksi kayu olahan terbesar, yakni pulp mencapai 1,3 juta ton pada tahun 2001. Selain itu, produksi kayu bulat dari jenis kayu ramin, rengas, kulim, meranti, dan kayu campuran, mencapai 143.310 m3.

Produksi industri hasil hutan ini diekspor ke beberapa negara di Asia, seperti Hongkong, Taiwan, Cina, Jepang, Korea Selatan, Filipina, India, dan negara lainnya. Ekspor terbesar komoditas kertas dan barang dari kertas, kayu lapis, dan kayu olahan lain. Volume ekspor tahun 2001 sekitar 1,5 juta ton dengan nilai 702,20 juta dollar AS. Ekspor dilakukan dari tiga pelabuhan di Siak, yakni Pelabuhan Buatan, Pelabuhan Perawang, dan Pelabuhan Siak Sri Indrapura. Ke depan, pemda kabupaten akan membangun pelabuhan dan Kawasan Industri Buton (KIB) dengan memanfaatkan lokasi Tanjung Buton yang strategis bagi pengembangan pelabuhan.

Hasil Hutan

Berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK), luas di Kabupaten Siak adalah 355.705,00 ha sedangkan non hutan (areal konversi/untuk penggunaan lain) seluas 371.511,75 ha. Dari 13 HPH yang tercatat di wilayah Kabupaten Siak, yang mendapatkan RKR HPH (masih produksi) ada 3 buah dengan target luas tebang 2.320 ha, dan target produksi 85.866,97 m3. Untuk RKT HPHTI (Tanaman Industri) telah dikeluarkan 21 izin dengan target luas 206.864,89 ha, dan izin IPK (Izin Pemanfaatan Kayu) sebanyak 28 buah dengan target produksi 869.050,37 m3.

Dari luas kawasan hutan produksi/konversi yang ada, sebesar 229.053,93 ha dilepas menjadi kawasan non-hutan/perkebunan, dikelola oleh 31 buah perusahaan. Realisasi ekspor industri kayu berupa olahan, terdiri dari kayu lapis (plywood) 311.825,46 m3, kayu gergajian 2.635,13 m3, arang bakau 634,47 m3, moulding 11.311,52 m3 dan pulp 1.185.021,50 ton. Saat ini Kabupaten Siak terdapat 12 unit industri pengelolaan hasil hutan dengan 3 jenis kegiatan industri yaitu plywood, pulp & paper, dan saw mill.

 

CAGAR BIOSFER
SPATIAL PLANNING KAWASAN CAGAR BIOSFER

CAGAR BIOSFER adalah kawasan ekosistem darat dan pesisir yang diakui keberadaannya di tingkat internasional sebagai bagian dari program UNESCO.

Usulan penetapan cagar biosfer diajukan oleh pemerintah nasional; setiap calon cagar harus memenuhi kriteria tertentu dan sesuai dengan persyaratan minimum  sebelum dimasukan ke dalam Jaringan Dunia

Diharuskan memenuhi tiga fungsi yang saling menunjang

  • KONSERVASI; Untuk melestarikan sumber daya genetik, jenis, ekosistem dan lansekap
  • PEMBANGUNAN; Untuk memacu pembangunan ekonomi dan kesejahteraan manusia
  • PENDUKUNG LOGISTIK; untuk mendukung proyek percontohan, pendidikan dan pelatihan lingkungan dan penelitian dan pemantauan yang berhubungan dengan masalah-masalah konservasi dan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal, nasional dan dunia

fisik, cagar biosfer harus terdiri atas tiga elemen, yaitu:

satu atau lebih zona inti, yang merupakan kawasan dilindungi bagi konservasi keanekaragaman hayati, pemantauan ekosistem yang mengalami gangguan, dan melakukan kegiatan penelitian yang tidak merusak serta kegiatan lainnya yang berdampak rendah (seperd pendidikan);

zona penyangga yang ditentukan dengan jelas, yang biasanya mengelilingi atau berdampingan dengan zona inti, dan dimanfaatkan bagi kegiatan-kegiatan kerjasama yang tidak bertentangan secara ekologis, termasuk pendidikan lingkungan, rekreasi, ekoturisme dan penelian terapan dan dasar;

zona transisi, atau zona peralihan, yang mungkin berisi kegiatan pertanian, pemukiman dan pemanfaatan lain dan dimana rnasyarakat lokal, lembaga manajemen, ilmuwan, lembaga swadaya masyarakat, masyarakat adat, pemerhati ekonomi dan pemangku kepentingan lain bekerjasama untuk mengelola dan mengembangkan sumberdaya secara berkelanjutan.

KRITERIA KAWASAN CAGAR BIOSFER

  1. Memiliki sistem ekologi yang mewakili Biogeografi Utama, termasuk adanya kerusakan karena kegiatan manusia
  2. Memiliki nilai penting bagi konservasi keanekaragaman hayati
  3. Memberi peluang untuk mengeksplorasi dan mendemostrasikan pendekatan pembangunan berkelanjutan skala regional
  4. Mempunyai luas tertentu untuk mendukung ke tiga fungsinya
  5. Mempunyai sistem zonasi: Inti, Penyangga, dan Transisi
  6. Partisipasi berbagai stakeholder (pemerintah, masyarakat lokal, swasta) dalam perencanaan  fungsi-fungsi cagar biosfer
  7. Persyaratan:
  • Mekanisme pengaturan pemanfaatan SD hayati dan kegiatan di zona penyangga dan zona-zona lainnya
  • Kebijakan dan rencana pengelolaan cagar biosfer
  • Mekanisme untuk implementasi, kebijakan atau rencana
  • Program penelitian dan pemantauan, pendidikan dan pelatihan.

cagar biosfer kehutanan(3)Model Konseptual Tata Ruang Kawasan Cagar Biosfer

Taman Nasional  Zamrud

ditunjuk sebagai Kawasan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar melalui SK Menteri Pertanian No. 846/Kpts/Um/II/1980 dan ditetapkan pada tanggal 26 Agustus 1999 dengan SK Menhutbun No. 668/Kpts-II/1999 seluas 28.237.95 ha

diajukan sebagai Taman Nasional Zamrud oleh Bupati Siak dengan surat No 660/SET/1005/2001, tanggal 2 Nopember 2001 dan surat No: 364/Dishut/205/2005 tertanggal 9 Juni 2005

Spesies penting : Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), beruang madu (Helarctos malayanus malayanus), Rusa (Cervus timorensis), Burung enggang (Buceros rhinoceros), Kera ekor panjang (Macaca fascicularis), Biawak (Varanus salvtor), Ikan Arowana (Schleropages formosus

Vegetasi; Meranti (Shorea spp), Ramin (Gonystylus bancanus Kurz), Kempas (Koompassia malaccensis Maig), Bintangur (Calophyllum spp), Pinang Merah (Cyrtotachys lakka), Nipah (Nypa fructican), Pandan (Pandanus sp)



Back to Top