Tanam Sayur Bayam, Petani di Siak Ini Berpenghasilan Rp15 Juta Sebulan

Tanam Sayur Bayam, Petani di Siak Ini Berpenghasilan Rp15 Juta Sebulan

Tanam Sayur Bayam, Petani di Siak Ini Berpenghasilan Rp15 Juta Sebulan

No Comments on Tanam Sayur Bayam, Petani di Siak Ini Berpenghasilan Rp15 Juta Sebulan

Kendati berkebun kelapa sawit sudah menjadi andalan bagi sebagian besar petani di Provinsi Riau, namun tak menyurutkan langkah Suryono beralih profesi sebagai petani hortikultura. Meski awalnya sangat berat dan dipandang sebelah mata oleh warga di kampungnya yang mayoritas petani sawit, namun kerja keras dan keuletan pria 41 tahun ini akhirnya membuahkan hasil.

Buktinya, dengan menanam berbagai jenis sayur-sayuran di atas lahan setengah hektare, warga Dusun Sukajaya, Kampung Pinang Sebatang Barat Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak ini berpenghasilan Rp15 juta sebulan.

“Sayur bayam menjadi andalan saya. Dengan lahan setengah hektare, dari sayur ini saya bisa menghasilkan Rp15 juta per bulan. Sementara, untuk satu hektare lahan sawit yang saya miliki, hanya menghasilkan Rp 2-3 juta per bulan,” cerita Suryono di hadapan Bupati Siak Drs H Syamsuar MSi, Jumat (18/11/2016).

Bupati sengaja mengundang petani holtikultura ini ke ruang kerjanya untuk mendengar kisah sukses Suryono menanam berbagai jenis sayur hingga berpenghasilan Rp15 juta per bulan. Tentu prestasi ini sangat langka bagi seorang petani di Riau, khususnya di Kabupaten Siak, karena sebagai besar masyarakat merupakan petani kelapa sawit.

Berkat keberhasilan itu, Suryono ikut diundang untuk mengikuti acara KTT Perubahan Iklim 2016 di Maroko, beberapa waktu lalu. Suryono tidak sendirian, dia ditemani Humas Distrik Minas Raso Kuning PT Arara Abadi Aep Mahmudin bersama empat orang stafnya.

“Saya bangga dan bersyukur jadi orang Indonesia, karena kita diberi tanah yang subur tidak seperti di Maroko yang tandus,” sebutnya.

Dia beralasan kenapa nekat beralih profesi dari petani sawit ke petani holtikultura, menurutnya jenis tanaman ini jauh lebih gampang dibanding sawit. Apalagi, petani bisa menggarap lahan yang sama hingga berkali-kali panen tanpa perlu membuka lahan baru.

“Meski awalnya ada juga yang mengejek, sejak beberapa tahun ini saya mulai tanam berbagai jenis sayuran, seperti kangkung, bayam, cabai, melon, semangka, kacang panjang, timun, pepaya dan jagung. Sekarang hasilnya sangat memuaskan, jika dibanding berkebun sawit,” jelasnya dengan penuh semangat.

Mendengar cerita Suryono dan prestasi yang diraihnya, Bupati Siak mengaku bangga atas keberhasilan dan kegigihan petani itu. “Saya bangga atas keberhasilan Pak Suryono. Inikan aneh ya, disaat orang-orang menanam sawit, Pak Suryono malah menanam sayur dan ternyata hasil sungguh luar biasa,” ujar Syamsuar didampingi Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Siak, Robiati.

Bupati meminta agar Suryono bisa berbagi ilmu dan pengalamannya kepada petani lain di Kabupaten Siak. “Mudah-mudahan dengan keberhasilan Pak Suryono ini, petani sawit kita bisa mencontoh dan berangsur-angsur menanam sayuran,” harapnya.

Humas PT Arara Abadi Aep Mahmudin mengatakan, pihak perusahaan mengulirkan program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) di Desa Pinang Sebatang Barat Kecamatan Tualang. Bantuannya berupa budidaya sapi, kambing, perikanan dan budidaya tanaman holtikultura.

Dana yang digulirkan Rp229 juta untuk desa-desa binaan, yang selanjutnya akan diberikan kepada petani-petani dan peternak. Sehingga dana yang dikucurkan dapat berkembang lagi, dan hasil tanaman holtikultura dari petani juga dibantu untuk memasarkannya.”Termasuk hasil sayur mayur Pak Suryono ini,” pungkasnya.

Keberhasilan Suryono ini diakui Pemerintah Kabupaten Siak melalui penghargaan Adikarya Pangan Nusantara 2015, dan Petani Terbaik Siak Bidang Hortikultura 2016. Bahkan, Suryono kini dianggap menjadi inspirasi bagi petani lain, sehingga membawanya menghadiri KTT PBB Perubahan Iklim (COP-22) di Marrakesh, Maroko, 7-18 November 2016.

Suryono juga aktif kegiatan Progam Desa Makmur Peduli Api (DMPA) di kampungnya. Progam DMPA ini bertujuan untuk praktik pertanian yang berjalan beriringan dengan konservasi lingkungan, meliputi Hutan Alam dan Hutan Tanaman Industri (HTI), termasuk pencegahan kebakaran hutan melalui peran aktif komunitas lokal.

“Dari DMPA tersebut saya dapat bantuan alat berat untuk buat embung air, infrastruktur jalan ke kebun sampai membantu kami untuk memasarkan hasil panen tersebut, ” tutup Suryono.

 

Sumber goriau.com, Sabtu 19 November 2016

 
linked in share button

Leave a comment

Back to Top