SIAK — Pemanfaatan Gedung Kutab di kawasan Istana Siak sebagai gerai Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Siak sempat memunculkan perhatian masyarakat. Sejumlah tokoh dan warga mengkhawatirkan perubahan fungsi bangunan cagar budaya tersebut dapat menggeser perannya sebagai pusat pendidikan agama, literasi, dan penyimpanan manuskrip bersejarah.
Ketua Harian Dekranasda Siak, Ecy Novemirata, menanggapi opini yang berkembang di tengah masyarakat bahwa penempatan gerai kerajinan di Gedung Kutab bukan untuk menghilangkan nilai historisnya.
Sebaliknya, langkah tersebut dilakukan sebagai upaya merawat bangunan sekaligus menghidupkan kembali fungsinya agar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurut Ecy, sebelum ditempati dan di tata, kondisi Gedung Kutab cukup memprihatinkan. Bangunan bersejarah itu sempat tidak terawat, dengan sejumlah kerusakan pada pintu, jendela, dan plafon. Bahkan, gedung tersebut pernah digunakan sebagai tempat penyimpanan barang.
“Melalui pertimbangan yang matang, penataan ulang dilakukan menjelang HUT ke-27 Kabupaten Siak. Bagian yang kotor dibersihkan, kerusakan diperbaiki secara bertahap, dan fasilitas dirapikan agar roh serta marwah bangunan ini kembali hidup,” ujar Ecy. Rabu (14/10/2026).
Ia menjelaskan, keberadaan gerai Dekranasda dirancang untuk memperkenalkan produk kerajinan lokal kepada wisatawan yang berkunjung ke kawasan Istana Siak. Pengunjung dapat mengenal wastra atau kain tenun khas Siak, alat tenun tradisional, aneka produk kriya, hingga kuliner lokal.
"Pemanfaatan Gedung Kutab sebagai gerai Dekranasda tidak serta-merta menghilangkan literasi dan fungsi historisnya. Justru kita berencana mempertahankan sekaligus memperkuat pojok baca dengan menambah koleksi buku keagamaan, sejarah Kerajaan Siak, kebudayaan, dan seni kriya lokal," bener Ecy.
Selain itu, Dekranasda akan menghidupkan kembali program edukatif bagi pelajar juga akan dihidupkan kembali. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan dapat mempelajari sejarah dan kebudayaan Siak secara langsung, sekaligus mengenal proses pembuatan kerajinan tradisional daerah.
"Dalam waktu dekat kita akan menerima kunjungan pelajar sebanyak 243 siswa SD dan SMP dari Pekanbaru dijadwalkan mengunjungi showroom Dekranasda pada 3, 7, dan 11 November mendatang. Mereka akan mengikuti pembelajaran mengenai tenun Siak dan batik Siak," jelas Ecy.
Ia berharap, pemanfaatan Gedung Kutab dapat berjalan beriringan dengan pelestarian nilai sejarah dan budaya yang melekat pada bangunan tersebut. Aktivitas yang terarah juga diharapkan membuat gedung lebih terawat dan terhindar dari keterlantaran maupun penggunaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kawasan cagar budaya.
dijaga dan dinikmati. Kini, sejarah itu ditopang oleh keberadaan karya UMKM lokal agar pengunjung tidak hanya bisa membaca dan mengenang sejarah, tetapi juga ikut mendukung para seniman dan perajin yang menjaga akar budaya Siak,” tutup Ecy.
Pemanfaatan Gedung Kutab diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara pelestarian sejarah, penguatan literasi, pendidikan budaya, dan pengembangan UMKM lokal. Dengan demikian, keberadaan gerai Dekranasda tidak hanya menghadirkan aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan warisan budaya Siak kepada generasi muda dan wisatawan.
(MC Siak)
