Sunga Apit – Bupati Siak Afni Z meninjau pembersihan anak Sungai Mengkapan mengunakan alat berat Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) III Pekanbaru. Didampingi Penghulu Kampung Mengkapan Muhir, Afni melihat alat berat sedang bekerja.
Normalisasi kanal dan Anak Sungai se-Kabupaten Siak dilakukan guna mengatasi masalah banjir dan mengembalikan fungsi alami ekosistem sungai.
Langkah strategis ini berhasil diwujudkan melalui kolaborasi solid antara Pemkab Siak, Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) III Kementerian Pekerjaan Umum (PU), serta dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.
“Kami mengucapkan terimkasih kepada BWSS, lewat kolaborasi ini, harapan masyarakat dari kecamatan bisa terpenuhi,” kata Afni.
Bupati Siak Afni Z menegaskan bahwa keterbatasan APBD tidak menjadi penghalang untuk merealisasikan program yang sudah dinantikan oleh masyarakat di wilayah pesisir Siak selama puluhan tahun ini.
"Selain melalui anggaran APBD Siak, juga dukungan dari BWSS III dan CSR perusahaan. Meski mewujudkan cuci sungai ini tidak mudah di tengah efisiensi anggaran, kami sangat bersyukur kegiatan yang ditunggu masyarakat ini dapat terlaksana," ujar Bupati Afni.
Sebagai langkah awal, pembersihan dan pengerukan dimulai di sepanjang aliran alamnya sekitar 9 Kilometer, yang kemudian akan dilanjutkan ke kecamatan Sungai Mandau sepanjang 10 Kilometer.
Program ini akan terus menyasar beberapa anak sungai krusial lainnya dan dilakukan secara bertahap diantaranya Sungai Jernih di kecamatan Mempura dan Sungai Sam-sam di kecamatan Kandis.
Untuk mengoptimalkan pekerjaan di lapangan, BWSS III Kementerian PU memberikan dukungan berupa pinjaman pakai alat berat khusus, yaitu Excavator Amphibi PC 200 Long Arm buatan produksi PT PINDAD Indonesia.
"Mobilisasi alat sebesar ini sangat tidak mudah, termasuk perihal kebutuhan bahan bakarnya yang sangat besar. Namun berkat ikhtiar dan kolaborasi bersama, semua bisa berjalan," tambah Afni.
Tentunya manfaat multifungsi dalam Program Cuci Sungai dan normalisasi ini dirancang untuk memberikan dampak positif jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan sekitar sebagai cara awal mengatasi dampak banjir musiman.
Pengerukan sedimen lumpur atau pasir (normalisasi) akan mengurangi kedangkalan sehingga kapasitas tampung air sungai tetap optimal saat curah hujan tinggi, sekaligus meminimalkan risiko luapan air pasang laut ke permukiman warga di daerah pesisir laut.
Penghulu Kampung Mengkapan Muhir mewakili masyarakatnya berterima kasih kepada kepala BWSS III Kementerian PU atas aksi meminjamkan alat berat nya untuk cuci aliran sungai dan normalisasi.
"Masyarat kami sangat bersyukur sekali mendengar ada pekerjaan cuci aliran sungai dan normalisasi ini, sebab dari dulunya belum pernah dilakukan. Sungai Mengkapan ini sampai sekarang masih menjadi sumber penghidupan nelayan dan juga akses ke Kebun-kebun masyarakat,” kata Muhir.
“Namun akibat pendangkalan jadi sulit di akses dan akibatnya ikan-ikan hilang dan mengakibatkan penyebab banjir di di kawasan pemukiman masyarakat kampung,” ungkap Muhir.
(Dep/MC Siak)
